This Blog Info

Searchin' for Korean artists profile? See : profil.
Need a download link? See: DOWNLOAD FREE MP3 HERE!!!
Want to sing along with your dearest artists? See: Korean Song Lyrics
And if you need any help, you can check: HELP
Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Desember 2010

Yuri & Five Pearl - "EPILOGUE"

Epilog


Tirai di depan terbuka, dan sinar lampu yang gemerlap langsung menyinari panggung. Penonton jingkrak-jingkrak dengan semangat, sambil mengacungkan tangan mereka ke depan. Banyak yang membawa poster dengan tulisan FIVE+ PEARL atau FT ISLAND.
Alunan lagu Barae terdengar. FT Island pun keluar dari belakang layar, dan mulai menghibur para penonton.
Jaejin, sambil mengintip ke arah panggung lewat celah tirai yang terbuka sedikit, menggenggam tangan Yuri erat. “Sebentar lagi kita, nih,” bisiknya. Yuri berusaha mengatasi rasa tegangnya dengan senyuman yang terlihat sangat tidak yakin.
Hyunjae melatih vokalnya. Junsoo sedang mengstem gitarnya, dan Doojin masih gelisah—terlihat karena dia masih mengetukkan kakinya ke lantai dengan cepat. Sementara Minhwan cuman memukul-mukulkan kedua stik drummnya satu-sama lain. Yuri dan Jaejin saling bergandengan.
Terdengar tepuk tangan yang membahana ke seisi ruangan. FT Island pun membungkuk ke arah penonton. Honggi pun memperkenalkan band yang akan muncul berikutnya, yaitu FIVE+ PEARL. Seluruh penonton pun berteriak histeris.
“Fighting,” ujar Honggi sambil menepuk pundak Hyunjae pelan. FIVE+ PEARL saling bertatapan dan mengangguk yakin, kemudian menerikan yel-yel mereka, fighting!, dan keluar dari backstage dengan sambutan histeris daripara penonton.

***

Eri mengelap air matanya yang mulai jatuh ketika sebuah program di TV menunjuk-kan Siwon yang sedang berada di altar pernikahan bersama Sarang. THAEYANGI mungkin sudah bangkrut, tetapi perusahaan elektronik yang didirikan Siwon, SARANG, kini sedang meniti karir. Bahkan, SARANG dipercaya oleh para pengamat ekonomi, bisa lebih daripada THAEYANGI.
“Putramu hebat,” Ayah Siwon mengelus punggung Eri. “THAEYANGI kalah daripada SARANG.”
Eri mengangguk, dan tersenyum bangga.

***

A/N: Finished!!! How's the story?? Thanks for reading... :))

(C)2009 by Kania Caroline

Selasa, 23 November 2010

Yuri & Five Pearl - "Hari H"

Yuri dan Siwon risih melihat pandangan dari kedua wanita di depan mereka. Yuna dan Eri menatap mereka berdua dengan pandangan yang tidak mengenakkan dan berarti wah, sudah jalan berdua, berarti sudah dekat ya!

“Aku cuman nganterin Yuri, Ma,” tampik Siwon. Tetapi Eri pura-pura tidak men-dengarkan, dan masih senyam-senyum sendiri. “Ma, bener-bener deh... buat apa sih, pakai tunangan segala? Aku cuman menganggap Yuri tuh sebagai adik kelas dan teman.”

“Sst, Siwon...” Eri merajuk kepada anaknya, “bolehlah kalian saling kenalan dulu.. . Nanti pasti kalian jadi saling jatuh cinta deh.”

BLEAKH, batin Yuri dan Siwon bersamaan.

“Oh ya, Yuri...” Eri menyodorkan sebuah kotak yang sudah dibungkus warna-warni, “selamat ulang tahun ke-17, ya! Sweet seventeen, deh...”

Yuri tersenyum simpul dan mengambil kotak itu tanpa ada selera untuk membuka-nya. Padahal, daridulu ia sudah sangat menunggu-nunggu sweet seventeen-nya. Dia mem-punyai mimpi agar merayakan sweet seventeen dengan abangnya. Hanya berdua.

“Dah, Yuri... kamu cepat siap-siap ya, jam 10 kita berangkat ke restorannya,” kata Yuna. Yuri masuk ke dalam kamarnya tanpa berkata sepatah kata apapun, dan langsung duduk di kasurnya dengan perasaan yang tidak enak dan lesu. Hyunjae-oppa, ke mana? Jangan sampai dia mengalami kecelakaan kayak Hyunsoo-oppa... ah! Yuri, mikir apa kamu ini... Yuri membenamkan wajahnya ke dalam bantal. Dan dia teringat sesuatu.

Oh, ya! AUDISI SM!!!

***

Jaejin sesekali melihat ke jam di tangannya, sudah pukul 9.15 tetapi Yuri belum juga datang. Padahal, audisi dibuka pukul 10 pagi.

Sementara itu, Yuri dengan cepat membersihkan diri, memakai baju yang sudah ia rencanakan dari kemarennya kemaren, dan memakai tata rias seadanya. Rambutnya yang sudah agak panjang ia sisir. Dia pakaikan bando kuning kesukaannya, hadiah dari Hyunsoo untuk ulang tahunnya yang ke-13 tahun. Yuri memakai baju terusan bewarna putih dengan garis-garis kuning di bagian bawah, sepatu pump 5 cm bewarna hitam, dan jaket untuk menutupi lengan buntung baju terusannya.

Yuri mengambil kotak kecil dari lemarinya, dan membukanya. Kalung dengan bandul mutiara hadiah dari almarhumah Ibunya yang dititipkan ke Hyunsoo. Sebagai pembawa keberuntungan, batin Yuri, lalu berdoa sebentar. Sebelum kabur, Yuri tersenyum ke arah pigura dengan foto abangnya, dan keluar kamarnya.

“Wah, cantik sekali Yuri,” puji Eri. Yuri tersenyum membalas, lalu langsung mem-buka pintu dan berlari keluar dengan memakai sepatu kets, sementara sepatu pump-nya ia tenteng di tangan kanan.

“Yuri?! Jam 10 kita baru pergi!!” Eri berusaha mencegat Yuri, “Yuna! Yuri kabur...!”

Yuna langsung muncul dari kamarnya, masih setengah make up-an. “Yuri!!!” panggil-nya. Yuri tahu ini tidak sopan, tetapi Yuri tetap berlari tanpa melihat ke belakang.

“Siwon, kejar Yuri!”

“Nggak usa—“

“HARUS!”

***

“Jaejin-oppa!”

Jaejin menengok ke belakang, dan langsung tersipu melihat Yuri yang sangat, sangat cantik. “Kok kamu terlambat?” tanya Jaejin sambil menghampiri Yuri yang sudah ngos-ngosan. Yuri menjawab pertanyaan Jaejin hanya dengan cengiran, karena sudah tidak ada tenaga untuk berbicara.

“Ya sudahlah, yang penting kamu hadir. Tadi aku sudah lapor ke pengawas, nomor giliran kita 677,” Jaejin memperlihatkan nomor giliran mereka. Ya ampun, lamanya... keluh Yuri. Yuri yang tadinya capek, kini digantikan dengan deg-degan dan gugup yang luar biasa.
“Jaejin-hyung?”

Jaejin dan Yuri melihat ke belakang mereka, mendapati Minhwan yang sedang ter-senyum senang. “Jaejin-hyung jadi ikut audisi?” Minhwan menghampiri mereka berdua. Jaejin mengangguk. “Ng... memang tidak pantas ngomong ini,” Minhwan mengepalkan tangannya di depan wajahnya sendiri, “tetapi aku nggak akan kalah dari YuJae.”

“Asal kamu jangan salah ketukan saja,” balas Jaejin sambil memukul pundak Minhwan pelan. Minhwan tersenyum, kemudian langsung pergi.

“Jaejin? Ngapain kamu di sini?” tanya Hyunjae.

Hyunjae-oppa! Syukurlah dia tidak apa-apa, Yuri lega.

“Oh, aku ikut audisi. Memangnya kenapa?” tanya Jaejin balik. Hyunjae, dengan Sarang didekatnya, melongo heran.

“Kamu ‘kan tidak bisa menyanyi! Memangnya boleh kalau cuman instrumen?”

Jaejin menarik Yuri ke dekatnya, “aku bersama Yuri. Kami bikin duo.”

Hyunjae terlihat kaget, sementara Sarang cuman tersenyum. Dia juga tegang, sama seperti Yuri.

“Yuri!!” panggil seseorang dari belakang. Siwon.

“Si... Siwon?”

“Kamu ngapain di sini? Yuna mencari-carimu...—“

Yuri menghampiri Siwon, dan menepuk Siwon pelan, “hei, Siwon... kamu tidak mau ‘kan, tunangan denganku...?

Siwon mengangguk. Jaejin dan Hyunjae terkejut. Sarang memandangi Yuri dan Siwon.

“Kalau begitu Siwon, kamu tahu ‘kan apa yang harus kamu lakukan? Tolonglah... aku harus mengikuti audisi ini. Ini lebih penting daripada pestaku,” bujuk Yuri. Siwon yang juga setuju, akhirnya tersenyum ke arah Yuri, dan berbalik untuk beranjak pergi. Namun, sebelum pergi, dia mencuri pandang ke arah Sarang yang jadi gelagapan karena kepergok sedang memperhatikannya.

Dan Siwon langsung merasa jantungnya berdebar.

***

Yuri mengambil napas dalam-dalam. Setelah ini adalah giliran mereka. Jaejin meng-eratkan genggamannya kepada leher gitarnya. Yuri melipat tangannya, memohon kepada Tuhan agar walaupun mereka tidak keterima, tapi yang penting Yuri bisa menyanyi dengan baik.

Lalu, dari pintu kayu besar di depan mereka, keluar grupband yang tadi masuk, di-anggotai oleh beberapa cewek. Mereka semua bermuka masam, bahkan ada satu yang me-nangis.

“Aduh, ROGALS pun bahkan ditolak,” keluh Jaejin menjawab rasa penasaran Yuri. “Itu grupband cewek yang terkenal.”

“Nomor giliran 677?” panggil sang pengawas.

Jaejin dan Yuri saling bertatapan, dan mengangguk yakin. Mereka berdua kemudian saling bergandengan tangan, dan masuk ke dalam ruangan audisi. HAH! Mereka kaget bukan main ketika melihat siapa jurinya. FT Island.

Annyong haseo,” sapa sang vokalis, Honggi kepada mereka. Jaejin dan Yuri ter-senyum kaku. Apalagi Yuri. Dia sangat berdebar melihat grupband kesukaannya, tepat ber-ada di depannya sekarang ini!

“Namamu... Jaejin ya?” tanya Jaejin dari FT Island. Dia lalu tertawa. “Wah, nama kita sama...! Kalian membawakan lagu..., ng... lagu kita juga ya? Sarangalhi...”

Keempat anggota lainnya ber-wah. Yuri masih berdiri kaku, sementara Jaejin sudah duduk, dan memulai ketukan. Yuri mengambil napas dalam-dalam.

nomuna manhi saranghan jwe... nomuna manhi saranghan jwe...

nan noro inhae geu jwero inhae gidarimeul altgo itdago

naega do malhi saranghan jwe... nol nomuna anhi geuriwehan jwe

nan noro inhae geu jwero inhae gidarimeul altgo itdago

irokge...

...

Jaejin dan Yuri keluar dari ruangan audisi itu. Walaupun sedih karena tidak lulus, tetapi mereka puas telah mencoba. Di sudut, terlihat FIVE PEARL sedang duduk, sama murungnya dengan mereka. Sarang bahkan menangis.

***

Yuna mondar-mandir di depan restoran. Eri juga. Tetapi mereka sama-sama lega ketika melihat Siwon yang muncul dari belakang taman, tetapi kembali kecewa ketika mereka mendapati Siwon tidak bersama Yuri.

“Mana Yuri?” tanya Eri.

“Mama! Pertunangan ini harus dibatalkan!” jawab Siwon. Eri dan Yuna terkejut. “Aku tidak mencintai Yuri, dan Yuri juga tidak mencintaiku. Kenapa kita harus bertunangan? Perusahaan THAEYANGI pun, sebentar lagi akan bangkrut, Ma. Sudah, tidak usah diselamat-kan. Kita dirikan yang baru...

Eri menutup mulutnya saking tidak percaya. Air matanya telah mengucur deras.

Siwon cepat-cepat menjelaskan, “aku tahu Ayah telah mendirikan THAEYANGI dengan mati-matian, tetapi ada kalanya sesuatu yang kita inginkan, tidak selalu bisa kita dapatkan. Aku bersedia mendirikan perusahaan lagi. Aku bersedia menjadi direktur. Tetapi tolong, jangan campuri kehidupan pribadi aku, dan Yuri...”

Yuna menghapus air matanya, “dia... lebih memilih Jaejin?”

Siwon mengangguk. Kemudian Eri memeluknya. Ya, pertunangan ini semestinya tidak perlu dinyatakan. Memangnya sekarang masih zamannya pertunangan yang diatur oleh orang tua?

“Dan, Mama...” Siwon berbisik, “Siwon menemukan gadis yang Siwon cintai.”

Doojin menghampiri Jaejin, “hei, Jae. Kamu diterima nggak?”

“Nggak. Sayang, FIVE PEARL tampaknya juga nggak diterima, ‘kan?” tebak Jaejin. Doojin tertawa, kemudian memukul Jaejin pelan.

“Aku merindukanmu, Jae,” Doojin tersenyum. “FIVE PEARL nggak hidup kalau tanpa kamu. Kamu itu yang paling mengesalkan, yang paling bikin gemes—tapi aku langsung merindukanmu begitu kamu keluar 1 jam.”

“Hahaha...” Jaejin tertawa. Junsoo menghampiri mereka.

“Kalian nggak diterima?” tanya Junsoo. Yuri dan Jaejin mengangguk. Junsoo tertawa kecil. Wah! Dia tertawa! Yuri, Jaejin dan Doojin kagum. Baru kali ini mereka melihat Junsoo tertawa, walaupun cuman tertawa kecil.

“Jaejin,” Hyunjae nimbrung. Jaejin langsung membuang muka. “Maaf, ya... aku sadar aku tidak bisa memiliki Yuri, karena dia lebih ke-addicted sama kamu.

Yuri langsung merona. Jaejin menatap Hyunjae dengan perasaan bersalah.

“Nggak apa-apa, Jae,” Hyunjae mengulurkan tangannya, “maafin, ya.”

Jaejin menyambut tangan Hyunjae, “aku juga minta maaf.”

“Hyunjae-oppa,” Sarang mengejutkan mereka, “aku mau keluar dari FIVE PEARL.”

“Oh ya Sarang,” cegat Hyunjae saat Sarang baru mau beranjak keluar, “tampaknya aku tidak bisa mencintaimu. Maaf ya.”

Sarang tidak berbalik, hanya mengangguk di tempat dan menghapus air matanya. Dia lalu berjalan kembali. Setelah bayangan Sarang hilang, Doojin langsung menemukan ide.

“Hey! Jaejin, kamu balik ke FIVE PEARL, ya!”

“Bo... boleh, memangnya?”

“Tentu,” jawab Hyunjae dan Minhwan bersamaan. Lanjut Hyunjae, “kan kamu yang mendirikannya. Dan karena kamu sang pendiri dan leader, kamu mendapatkan hak untuk keluar-masuk dari FIVE PEARL, tapi jangan keseringan.”

Jaejin tertawa. FIVE PEARL jadi ikutan tertawa. Yuri cuman tersenyum, namun hati-nya juga kecewa karena mereka tidak lulus.

FIVE PEARL dan Yuri baru saja mau meninggalkan tempat audisi, sebelum Minhwan dari FT Island keluar dari ruangan, dan mencegat mereka.

“Maaf, kami mau mengubah keputusan,” Minhwan menyerahkan selembar kertas, “setelah membacanya, kalian mau tidak, pergi ke ruangan V? Tolong ya, kami menunggu.” Minhwan lalu langsung berlalu ditelan kerumunan orang.

Junsoo membaca kertas bewarna kuning itu, dan langsung bersorak-sorak riang.

Doojin merampas kertas itu, “hah!!! Kita keterima!! FIVE PEARL diterima!!!!”

Kelima cowok itu saling bergandengan dan mulai jingkrak-jingkrak. Yuri ikut senang, dan akhirnya masuk ke dalam lingkaran dan sama-sama jingkrak-jingkrak. “Hei,” Doojin kembali mendapatkan ide gila, “memang, Sarang sudah keluar dan kembali digantikan oleh Jaejin. Bagaimana kalau... kita nambah satu orang lagi?”

“Hee..~?”

“Siapa, Jin?” tanya Hyunjae.

Doojin menunjuk ke arah Yuri. Yuri langsung hang.

“Aku nguping saat kalian audisi, dan Yuri mempunyai suara yang cukup bagus. Bagaimana, Yuri, interest nggak masuk ke grup FIVE PEARL?”

Hyunjae membantah, “aku tetap mau jadi vokalisnya. Dan aku tahu Yuri ini pintar di apa. Yuri... kamu sering memergokiku saat aku bermain piano, dan kadang-kadang aku men-dengarmu bersenandung. Kamu pintar main piano, ya?”

Yuri dengan malu-malu, akhirnya menjawab—karena seluruh pandangan mengarah padanya, “i... iya, sih. Cuman sedikit tapinya... di Gereja aku pernah main organ. Hyunsoo-oppa yang mengajari.”

“Bagaimana?”

“Bagaimana apanya?” tanya keempat cowok lainnya kepada Doojin.

“Posisi keyboard telah dibuka,” jawab Doojin. Yuri cengengesan. “Kita ganti nama, jadi FIVE+ PEARL. Bagaimana?”

Usul Doojin yang sangat aneh itu, mau tidak mau diterima juga karena ternyata, USULNYA BENAR-BENAR CEMERLANG.


(C) 2010 by K.Caroline

A/N: final episode... epilogue will soon post... ^^

Selasa, 16 November 2010

Yuri & Five Pearl - "Insadong"

Yuna sedang sangat senang hari ini. Dia dengan kagum melihat gaun penganten yang dipajang di lemarinya. Hari ini, Yuna berencana mengejutkan Yuri dengan gaun desainnya tersebut. Eri di sebelahnya, juga memandangi gaun berhiaskan mutiara itu dengan terkagum-kagum.

“Bagus sekali desainmu,” puji Eri. Yuna mengangguk bangga. “Kita memang harus sudah menyiapkan segalanya. Lusa, saat keponakanmu itu berulang tahun ke-17, kita akan mengungumkannya kepada seluruh para hadirin bahwa mereka akan menikah bulan depan. Bagaimana?”

“Siip,” jawab Yuna senang.

“Aku pulang,” kata Yuri dengan suara serak. Yuna menyambut Yuri dengan senang luar biasa, sampai membuat Yuri curiga. “Kenapa bibi begitu senang? Ada kejadian dengan Siwon dan THAEYANGI?” tebak Yuri.

Yuna menggelengkan kepalanya, pura-pura tidak ada kejadian apa-apa, padahal lusa akan ada event yang sangat besar sekali. “Bibi cuman senang, lusa adalah hari ulang tahun-mu yang ke-17 tahun. Bibi sudah memesan tempat di restoran, mengundang teman-teman sekolahmu dan relasi bibi dari kantor...!”

“Biasanya, kalau di sinetron, pesta ulang tahun sekalian dengan pengunguman bahwa akan ada yang menikah...” Yuri menyipitkan matanya melihat Yuna yang salting, “tetapi pestaku tidak begitu, ‘kan bi?”

“Oh... tentu tidak!!” Yuna kembali mengolah kata-kata, “masa bibi sekejam itu sama kamu, padahal kamu masih kelas 1 SMA? Sudahlah, jangan dipikirkan. Masalah tentang tunangan itu, bisa kita bicarakan lagi nanti...”

“Oh, oke,” Yuri masuk ke dalam kamarnya. Dia tidak ingin pusing memikirkan tentang pertunangannya. Mau ada pengunguman pernikahan tidak apa-apa, toh, audisi SM bertepatan dengan ulang tahunnya.

***

Hari ini, kelas 10.8 mengadakan tamasya ke Insa-dong, salah satu pusat pembelanjaan terbesar di Korea, dan di mana kita bisa berbelanja sepuas hati. Namun Yuri merasa tidak semangat, karena dia sangat pusing memikirkan seperti apa audisi esok hari. Yuri cuman berjalan tanpa arah, tanpa ada keinginan untuk berbelanja seperti teman-temannya yang lain.

BRUK!

“Awww...” lagi-lagi Yuri tertabrak orang. Yuri mengangkat wajahnya, dan sangat terkejut mendapati Hyunjae di depannya. Oh ya, Hyunjae-oppa ‘kan ikut klub jurnalis, makanya dia juga ikut ke sini ya, jawab Yuri dalam hati. Hyunjae memang ikut klub jurnalis. Hari ini, klub jurnalis juga ikut ke Insa-dong untuk membuat laporan mengenai para anak muda yang lalu-lalang di sini.

“Aduh, maaf Yuri,” Hyunjae mengangkat Yuri. Yuri tersenyum. Hyunjae sangat ber-debar. Baru kali ini dia merasa, bahwa senyuman Yuri itu sangat manis. Lebih manis daripada senyuman Sarang. Ah, mikir apa aku ini! Hyunjae menepis bayangannya.

“Bagaimana kabar Sarang-onnie?”

Lamunan Hyunjae terpecah. Hatinya tiba-tiba sakit melihat mimik Yuri yang biasa saja saat menanyakan hal itu. Hyunjae mengharapkan Yuri harusnya sedikit sedih atau bagaimana. Tetapi, ternyata gadis di depannya tidak apa-apa.

“Hmm... baik,” jawab Hyunjae pelan, kemudian langsung berbalik, meninggalkan Yuri yang masih bengong. Yuri juga berbalik, namun baru mau berjalan, dari belakang ia di-peluk oleh seseorang.

“KYAAAA!!” teriak Yuri. Yuri kagum. Baru kali ini dia bisa berteriak lepas.

“Yu... Yuri, maaf,” Hyunjae melepas pelukannya, lalu kali ini benar-benar pergi. Yuri menarik napas cepat-cepat, dia sangat terkejut.

“Aduh, Hyunjae-oppa...” keluh Yuri dalam hati, kemudian memungut benda hitam yang terjatuh saat Hyunjae tadi pergi. Hmm? Yuri heran melihat fotonya di dompet Hyunjae itu. Jangan-jangan... Hyunjae-oppa, benar-benar mencintaiku?

Hyunjae menghempaskan dirinya di kursi di sebuah restoran makanan barat yang cukup ramai. Dia memandang ke sekelilingnya, melihat banyak pasangan SMU yang sedang makan bersama. Dadanya sesak.

“Mau pesan apa?” tanya seorang waitress.

“Tolong sebotol soju,” jawab Hyunjae tanpa berpikir. Soju adalah arak Korea. Dan dia belum cukup umur untuk meminumnya. Sang waitress tampak heran melihat seorang anak SMU meminta soju. “Sudahlah, cepat sediakan,” protes Hyunjae. Waitress itu langsung pergi ke dapur, dan kembali dengan membawa sebotol soju.

“Terima kasih,” kata Hyunjae dan menegak soju langsung dari botolnya. Dia benar-benar sedih.

***

Yuri melihat ke kanan-kirinya, kadang-kadang mengintip ke beberapa kedai, me-nanyakan orang-orang yang ia lewati. Tetapi dia belum menemukan Hyunjae dari tadi siang, dan sekarang matahari sudah berpulang, digantikan oleh bulan.

Sebenarnya Yuri bisa saja langsung pulang bersama teman-temannya tadi, tetapi entah kenapa, perasaan Yuri mengatakan bahwa dia harus bertemu dengan Hyunjae. Yuri adalah anak baru di Seoul. Jadi Yuri yang belum pernah ke Insa-dong, kini harus benar-benar bisa menerima bahwa dirinya nyasar.

Aduh, pengen sok heroic nyari Hyunjae-oppa, tapi yang ada malah nyasar, keluh Yuri sambil menyeka keringatnya gara-gara tadi dia berlari terus. Dia masih mencari-cari sosok Hyunjae. Sampai akhirnya dia melihat seorang cowok keluar dari restoran makanan barat, sambil terhuyung-huyung. Jalannya tidak menentu.

Oppa!!” Yuri menghampiri Hyunjae, dan memapahnya ke bangku kayu terdekat. Hyunjae langsung jatuh terduduk. Yuri duduk di sebelahnya, kemudian memberikannya air mineral. “Hah? Kok oppa bau soju, sih?” tanya Yuri. Hyunjae terdiam, sambil menyenderkan kepalanya ke besi kursi. Kayaknya dia menangis, batin Yuri ketika melihat mata Hyunjae yang sembap. Hyunjae terlelap.

Melihat Hyunjae yang tertidur nyenyak, Yuri keikutan terlelap. Dia sangat capek ber-lari daritadi. Yuri menyenderkan kepalanya ke punggung Hyunjae. Dia sangat tenang sekarang, karena akhirnya dia menemukan Hyunjae.

Yuri...

Ri... Yuri?

Yuri terbangun karena badannya digoncang-goncang. “Hah? Di mana ini? Jam berapa ini?!” tanya Yuri panik. Dia tambah panik ketika tidak melihat Hyunjae di sebelahnya. Cowok itu sudah hilang.

“Yuri?”

Yuri melihat cowok di depannya. Siwon. Raut wajah Siwon tampak khawatir. Jalanan Insa-dong mendadak sepi. Yuri melihat jam tangannya, sudah pukul 3 pagi. “Siwon? Kok kamu ada di sini?” tanya Yuri. Oh ya, dia ‘kan ketua OSIS. Jadi pasti dia ikut, dong. Tapi kok, jam segini dia belum pulang? tanya-jawab Yuri dalam hati.

“Aku nyariin kamu daritadi, Yuna panik karena kamu belum pulang,” jawab Siwon seakan-akan dia mengetahui isi hati Yuri. “Aku tanya ke Pak So, katanya kelasmu ke Insa-dong. Ya sudah, aku nyari ke sini.”

“Siwon ngeliat Hyunjae-oppa?” tanya Yuri dijawab gelengan Siwon.

“Kamu sendirian kok,” jawab Siwon, sambil membantu Yuri berdiri. “Yuk, kuantar pulang sebelum bibimu itu benar-benar panik.”

Yuri masih melihat ke sekelilingnya sambil berjalan mengikuti Siwon. Hyunjae-oppa... ke mana?

***


(C)2010 by K Caroline

Jumat, 12 November 2010

Yuri & Five Pearl - "Yujae (Yuri & Jaejin)"

Yuri menatap lurus ke depan, sambil senyam-senyum sendiri. Aku memang lagi jatuh cinta, bisik Yuri dalam hati. Yuna bahkan sampai heran melihat keponakannya itu. Makanan di depannya yang merupakan favorit Yuri bahkan tidak disentuh oleh gadis itu.

“Yuri... pasti kamu senang karena ditunangkan dengan Siwon, ya?” tanya Yuna mem-buat Yuri tersadar dari lamunannya, dan langsung menatap Yuna malas. “Ah, jangan bohong deh. Bibi tahu itu. Kamu senyam-senyum daritadi pasti sedang memikirkan Siwon, ‘kan? Hah? Hah?”

Yuri berusaha menghindari sikutan bibinya. “Enggak, bi. Aku lagi memikirkan Jaejin. J. a . e . j . i . n.”

Yuna nyaris memotong tangannya dengan pisau dapur. Yuri tidak percaya melihat bibinya itu. “Hah? Siapa tuh Jaejin?” Yuna kembali melanjutkan memotong lobak. “Rasanya bibi tidak pernah mendengarnya. Siapa tuh? Temanmu di SMA?”

“Ya, betul bi,” Yuri menyendok nasi dan memasukannya ke dalam mulutnya. “Dia cakep, baik... dan aku sedang pacaran dengannya.”

BRAK!

Irisan lobak memantul ke segala arah. Yuri merasakan aura mengancam dari bibinya yang sudah berhenti memotong lobak. Terdengar helaan napas panjang dari Yuna. Beberapa saat kemudian, Yuna mengambil irisan lobak yang akhirnya berhenti di dekatnya lagi, dan kembali memotong lobak. Yuri mengambil mangkok isi nasi, dan berlari menuju kamarnya.

Jaejin memandangi sebuah pigura di meja belajarnya. Di pigura bewarna hitam itu, terdapat FIVE PEARL yang masih duduk di SMP, dengan latar belakang Seongsan Sunrise Peak. Di situ terlihat mereka berlima sedang tersenyum senang. Bahagia. Jaejin kemudian membalikkan pigura itu, dan beralih ke HP yang sedang ia pegang.

Wallpaper yang menghiasi layar HP Jaejin adalah foto Yuri yang diambilnya diam-diam saat Yuri baru masuk di SMA Neul Paran. Yuri sedang memunguti sampah, sambil menyeka keringatnya. Jaejin tertawa kecil. Ia mengingat Yuri saat itu sedang menjalani hukuman karena terlambat. Tiba-tiba, SMS masuk.

Jaejin-oppa. Minhwan-oppa dtg ke rumah dengan menangis.

kenapa?

Yuri

***

Yuri menepuk-nepuk punggung Minhwan yang sedang menangis di dekapan Yuri. Yuna keheranan, namun ia berusaha untuk tidak ikut campur, melainkan sedang sibuk di telepon bersama Eri di ujung satunya.

“Minhwan—oppa... kok menangis?” tanya Yuri. Minhwan masih sesegukan, tidak mau menjawab, melainkan makin dalam membenamkan diri ke dalam dekapan Yuri. Yuri menyerah. Daritadi ia sudah menanyakan pertanyaan yang sama berulang-kali. Yuri capek. Dia akhirnya memilih diam.

“Siapa kamu?” tanya Yuna di luar, terdengar sayup-sayup di telinga Yuri.

“Saya teman Yuri, bibi. Ingin bertemu dengannya sebentar,” jawab cowok satunya. Yuna pun dengan berat hati mengijinkan. Pintu kamar pun terbuka. Senyuman Yuri merekah ketika melihat Jaejin masuk ke dalam kamarnya.

“Jaejin—hyung!!!” sahut Minhwan gembira dan segera memeluk Jaejin.

Jaejin mengelus punggung Minhwan pelan, dan tersenyum ke arah Yuri, namun di-balas dengan gembungan pipi Yuri. “Yuri... ngambek ya?” tanya Jaejin kepada Yuri yang masih menggembungkan pipinya.

“Iya.”

“Kenapa?”

“Habis, tadi di luar oppa bilang kita cuman temenan,” keluh Yuri. Jaejin tertawa garing.

“Ha-ha-ha..., kalau misalnya aku bilang aku pacarnya kamu, bisa-bisa nanti aku di-depak keluar dong,” jawab Jaejin. Yuri ikut tertawa. “Minhwan... kenapa kamu menangis?” tanya Jaejin kepada Minhwan.

“Kenapa Jaejin-hyung keluar dari FIVE PEARL?” rengek Minhwan, mengejutkan Yuri. “Minhwan nggak mau kalau misalnya di FIVE PEARL nggak ada hyung. Sepi dong!!!” Rengekan Minhwan makin keras. Jaejin berusaha menenangkannya. Yuri meminta penjelasan.

Sementara itu, di rumah Doojin juga terjadi keributan.

“Kamu menyuruh agar posisi Jaejin digantikan olehNYA?” Junsoo menunjuk Sarang. Hyunjae mengangguk pelan. Doojin dan Junsoo memastikan bahwa Hyunjae sudah sinting. Sangat sinting. “Kamu mengira, segampang itukah, menerima DIA?”

“Jangan menyudutkan Sarang, Junsoo!” tandas Hyunjae. Sarang yang ada di dekat mereka, cuman menunduk sedih. “Audisi SM sebentar lagi, dan Jaejin itu belum ada kabar juga.”

“Itu SEMUA karena KAMU ‘kan?” balas Doojin. Hyunjae terdiam.

“Jangan seenaknya mengubah sesuatu yang sudah pasti, Jae,” lanjut Junsoo, “FIVE PEARL itu didirikan sendiri oleh Jaejin, dan kamu seenaknya saja menggantikan posisi leader kita itu dengan Sarang?”

“Aku tahu ini salah, Soo...

“Terus kenapa kamu masih bersikeras?!”

“Ini semua untuk menyelamatkan FIVE PEARL!” jawab Hyunjae setengah berteriak.

Yuri manggut-manggut tepat setelah Jaejin menyelesaikan ceritanya. Yuri jadi makin tambah merasa bersalah, telah membuat perpecahan di antara mereka berdua. Tetapi, Jaejin dan Minhwan berkata bahwa itu bukan salah Yuri, dan bukanlah salah siapa-siapa.

“Dan begini, Yuri... bagaimana kalau kita ikut audisi itu juga? kita bisa membuat duo, aku di posisi gitar dan kamu di posisi vokal,” usul Jaejin. Yuri dan Minhwan terkejut. Yuri ingin sekali menolak, tetapi Jaejin terlihat sangat mengharapkannya. Dan yang bisa menjadi jawaban Yuri tidak lain adalah ya.

“Bagus! Kita namakan duo kita Yujae ya, singkatan dari Yuri dan Jaejin. Kita mulai latihan, besok.”

Yuri menelan ludah. Menyanyi? Oh, itu sama saja dengan membunuh diri.

***

“Oke, Yuri... coba nyanyikan satu lagu yang kamu bisa,” pinta Jaejin. Kini mereka berdua sedang berada di rumah Jaejin. Sepulang sekolah, mulai hari ini, Jaejin memberikan les privat bina vokalia kepada Yuri.

“Eng... ada satu lagu yang kusuka. Aku sering menyanyikannya di Gereja,” jawab Yuri, “judulnya Amazing Grace.”

“Oh, Amazing Grace. Ayo, nyanyikan!” pinta Jaejin. Yuri mengambil napas dalam-dalam. Dulu, dia dan Hyunsoo sering menyanyikannya saat Natal. Tapi waktu itu Yuri masih bocah, dan Yuri tidak tahu apakah suaranya bagus. Paling, kalau bocah, yang dinilai itu dari keberaniannya tampil ‘kan, bukan kualitas suaranya?

Jadi... 1... 2... 3...

Amazing Grace... how sweet the sound, that saved a wretch like me... I once was lost but now I’m found was blind but now I see...,” Yuri menyanyikannya bagus sampai saat ini, “amazing grace, how sweet the sound, that saved a wretch like me...

Yuri langsung batuk-batuk. Jaejin di depannya menghela napas sebentar.

“Kamu ngambil nadanya ketinggian. Kamu nggak takut ‘kan, sama aku?

Yuri menggeleng.

“Kalau begitu, rileks dong,” Jaejin menurunkan bahu Yuri yang memang menegang, “coba jangan terlalu ngambil oktaf tinggi. Rendahkan beberapa oktaf, kemudian coba nyanyi-kan kembali.”

Yuri bingung. Jaejin kemudian berpikir sebentar. “Kalau begitu, coba teriak,” pinta Jaejin. Kok permintaan Jaejin semakin aneh, sih, keluh Yuri. Namun, karena ditunggu oleh Jaejin, Yuri pun berteriak.

“AAAAA!!!!”

Jaejin tersenyum simpul. “Kamu teriaknya... kurang bebas, ya.”

Yuri melongos lemas, dan langsung terduduk di sofa sebelahnya, “sudahlah, oppa. Ide ini memang sangat mustahil untuk dilakukan. Aku nggak bisa menyanyi. Oppa cari saja pendamping lain.”

“Hah? Bukannya kamu pacarku?” tanya Jaejin mengejutkan Yuri. Jaejin menatap Yuri dengan memohon. “Yuk, coba Ri. Kamu bisa, aku tahu. Kamu cuman nggak ada usaha saja. Bagaimana kalau dengan lagu ini?”

Yuri heran melihat judulnya Mary Had A Little Lamb. Rasanya ia pernah mendengar lagu ini. Oh, ya! Lagu TK! jawabnya dalam hati. “Anu, Jaejin—oppa, ini bukannya lagu TK?” tanya Yuri.

Jaejin mengangguk. “Iya. Kenapa? Kamu pikir lagu TK itu tidak ada teknik menyanyi-nya sama sekali?”

“Bukan begitu...—“

“Kalau begitu, nyanyikanlah!” tegas Jaejin galak.

Aduh, oppa kok tiba-tiba jadi galak sih?! batin Yuri agak takut. Kemudian mengambil napas dalam-dalam, memulai menyanyi.

***

Sementara itu, di studio FIVE PEARL di rumah Doojin, suara musik masih terdengar sampai pukul 11 malam. Hyunjae berusaha menyanyikan lagu yang diciptakan oleh Doojin. Lagunya sangat susah, apalagi temponya yang cepat, dan sang pembuat tempo sedang hilang entah ke mana.

“Stop!!!” sahut Hyunjae tepat di depan mikrofonnya, membuat dengungan kecil. “Duh, Doojin! Kamu mau membunuhku, ya? Lagu ini super-duper susah dinyanyikan, tauk!”
“Kamunya aja yang udah kebanyakan nangis,” ejek Doojin, masih sibuk dengan bass-nya. Hyunjae mendengus kesal, dan menghampiri Sarang yang sudah memakaikan gitar di bahunya.

“Bagaimana denganmu, Sa?” tanya Hyunjae. Sarang membuat tanda ‘ok’ dengan jari-nya. Tidak terasa, minggu depan adalah hari audisi. FIVE PEARL begitu tegang. Apalagi dengan anggota baru—eh, pengganti di band mereka, semuanya yang biasanya terasa ringan, menjadi terasa sangat-sangat berat.

***

Kamis, 28 Oktober 2010

Yuri & Five Pearl - "Five, ah, Four..."

Yuri membuka kedua matanya, dan menyadari bahwa kemaren itu bukanlah mimpi. Setelah mencium Yuri, Jaejin kemudian membelai wajah Yuri lembut, dan mengucapkan kata yang sangat-sangat bisa membuat cewek manapun, pingsan: “Maukah kamu jadi pacarku?”. Yuri menatap langit-langit kamarnya yang jauh. Pipi Yuri pun merona ketika mengingat kejadian kemaren. Yuri kemudian bangkit dari tidurnya, dan masuk ke dalam kamar mandi dengan siulan riang.
“Yuri,” panggil Yuna dari luar, dijawab sahutan Yuri dari dalam bilik shower di kamar mandi. “Yuri, ada yang mau bibi bicarakan denganmu. Tolong habis mandi, segera temui bibi di ruang tamu, ya.”
“Baik bi,” jawab Yuri masih saja senang.
Yuna kemudian berjalan menuju ruang tamu, di mana Siwon sedang duduk manis di kursi yang paling dekat dengan pintu keluar. “Siwon, maaf ya memanggilmu subuh-subuh begini. Tunggu sebentar ya, Yuri masih mandi,” kata Yuna. Siwon mengangguk.
Eri di sebelahnya, tersenyum. “Yuna, racikan nokcha-mu memang yang paling best,” puji Eri kepada racikan nokcha Yuna.
“Ah, gomaptda,” jawab Yuna senang.
Siwon merenung.

***

“Kenapa?” tanya Jaejin tepat di ambang pintu rumahnya. Hyunjae di depannya, ter-diam. Di luar, hujan deras. Tetapi Jaejin tidak mempersilahkan Hyunjae masuk.
“Kenapa kamu cium Yuri?” tanya Hyunjae dengan nada suara tinggi. Jaejin tidak tampak terkejut, dia justru mendengus meremehkan.
“Memangnya kenapa? Kan kamu udah nggak ada apa-apa sama Yuri,” jawab Jaejin.
Hyunjae menatap Jaejin sengit, “kamu lupa kalau aku masih suka sama dia?!”
“Terus, Sarang itu, bagimu apa?!” balas Jaejin tidak kalah sengitnya.
Hyunjae menarik napas panjang, dan mengancungkan telunjuknya ke arah Jaejin, “oke! Bagaimana kalau persahabatan kita putus di sini saja?! Ternyata aku sudah salah menganggapmu sebagai teman. Dan aku juga bodoh masih menyukai Yuri!”
Jaejin terdiam. Hatinya lagi-lagi terluka. “Hmm... baiklah. Katakan kepada Junsoo, Doojin dan Minhwan kalau aku berhenti dari FIVE PEARL. Suruh Sarang yang juga bisa main gitar, mungkin lebih bagus daripadaku, itu, menggantikanku!”
BRAK!
Jaejin menutup pintu rumahnya dengan keras. Hyunjae tidak percaya apa yang baru saja terjadi. Jaejin... keluar dari FIVE PEARL?

***

Yuri kaget melihat Siwon yang sedang duduk di ruang tamu. Beberapa hari ini, setelah kejadian di rumah Siwon, dia tidak pernah melihat ketua OSIS SMA Neul Paran itu di sekolah. Tapi kini, Siwon back with a bang.
Mereka disuruh membicarakan hari pernikahan mereka.
“Bibi?! Aku masih kelas 1 SMA lho..!!” Yuri menekankan semua katanya, tepat di sebelah kuping Yuna agar Yuna sadar bahwa Yuri masih kelas 1 SMA.
“Ma, apa-apaan ini?” Siwon juga protes kepada mamanya. Eri tersenyum. Yuna juga cuman tersenyum. Yuri dan Siwon saling bertatapan dengan perasaan yang bertanya-tanya. Baru kali ini Yuri kesal terhadap bibinya, dan begitu juga Siwon. Siwon yang sangat meng-hormati Eri, kini ingin sekali menyadarkan ibunya.
“Memang kamu ini masih 1 SMA,” kata Yuna kepada Yuri, “tetapi, tunangan ini tidak bisa dibatalkan lagi, lho. Ini perintah dari Ayah Siwon. Kalian berdua ditunangkan agar perusahaan THAEYANGI terselamatkan.”
“Ma?” Siwon meminta penjelasan dari Eri.
Eri mengangguk setuju akan pernyataan Yuna, “betul sekali kata Yuna. Siwon, kamu harus bersedia menikahi Yuri, dan begitu juga Yuri agar perusahaan THAEYANGI terselamat-kan.”
Begitu Siwon dan Eri pergi, Yuri langsung mencerca Yuna dengan banyak pertanyaan. “Kupikir ini cuman becanda, bi! Memangnya aku harus menikah dengan Siwon?! Kenal pun, tidak! Memangnya, THAEYANGI itu, urusan kita, bi?”
“Tentu saja!” bentak Yuna. JLEB. Yuri kaget, baru kali ini sang bibi membentaknya. “Kamu tidak tahu, setelah ayah-ibumu meninggal, akulah yang membiayai hidupmu dan Hyunsoo?! Bibi jadi sampai berhutang ke Ayah Siwon karena abangmu itu mau masuk universitas yang ternama! Apalagi saat kamu masuk RS, dan belum lagi biaya untuk pemakaman abangmu!”
Yuna sadar kalau dia telah salah ngomong, dan berusaha meminta maaf kepada Yuri. Kalimat terakhir terngiang-ngiang di kepala Yuri, dan perasaannya jadi terluka. “Maaf, Yuri... bibi tidak berma—“
“Tidak apa-apa, bi,” sela Yuri untuk kedua-kalinya seumur hidupnya. “Aku tahu, aku telah menyusahkan bibi. Maafkan aku bi. Untuk selanjutnya, aku tidak akan berkata apa-apa.”
Malam hari, Yuna ingin pamit kepada Yuri karena dia harus dinas keesokan harinya. Cuman, Yuri mengurung diri di kamarnya. Tidak mau makan sejak pagi tadi. “Yuri...” Yuna menghampiri pintu kamar Yuri, dan dari pintu kayu yang agak tipis itu, Yuna mendengar isakan Yuri yang pelan, namun perih.

***

Sarang terbelalak setelah mendengar cerita Hyunjae perihal kepergian Jaejin dari FIVE PEARL. Apalagi saat Hyunjae memintanya masuk ke FIVE PEARL sebagai gitaris, untuk menggantikan Jaejin. “Oh, no, no, no. Aku tidak mau,” Sarang mengibas-ibaskan tangannya, lalu kembali menyeruput coca cola di depannya.
“Ayolah, Sa. Kamu tahu ‘kan, FIVE PEARL mau mengikuti audisi SM?” tanya Hyunjae. Sarang mengangguk pelan. “Nah, makanya, bantulah kami!”
Lagi-lagi, HP Hyunjae berdering, dan lagi-lagi perasaan Hyunjae makin buruk karena SMS yang masuk.
Hyunjae-hyung. Aku juga mau keluar kalau Jaejin-hyung keluar.
Minhwan

Hyunjae, Hyunjae... lagi2 kamu bikin masalah.
aku keluar dari fivepearl.
Doojin

Aku tidak bisa berkata apa-apa, tp aku heran.
kok lagi2 kalian musuhan?
Junsoo

Hyunjae kemudian memberanikan diri. Dia mengetik SMS untuk ketiga temannya dengan cepat.
KALAU KALIAN MENGHARGAI JAEJIN,
MAKA KALIAN HARUS MENGHARGAI FIVE PEARL.
SIAPAKAH YANG MENDIRIKAN FIVE PEARL?
JAEJIN.
SIAPAKAH YANG MEMBERIKAN KITA BROSUR UNTUK AUDISI SM?
JAEJIN.
SIAPAKAH ORANG YANG PALING MENJENGKELKAN DI FIVE PEARL,
YANG TELAH MEMBUATKU JADI MUSUHAN DENGANNYA?
JAEJIN.
DAN KARENA ITULAH AKU JADI MERASA BERSALAH.
AKU INGIN MEMINTA MAAF DENGAN MASIH MEMPERTAHANKAN
FIVE PEARL.
Hyunjae

Minhwan yang sedang duduk di dekat drum-nya, kaget melihat huruf-huruf besar di layar HP-nya. Doojin yang sedang berada di restoran Tony Roma’s bersama adiknya, juga kaget dan akhirnya steak iganya jatuh meluncur dari garpu yang dipegangnya. Sementara itu, Junsoo yang sedang mengikuti ujian di satu universitas, jadi salah menjawab.
Ya, mereka harus mempertahankan FIVE PEARL.

***

Yuri terbangun karena dering HP-nya. Dengan malas, Yuri berusaha menggapai HP-nya yang dia taruh di meja di sebelah tempat tidurnya. Ada banyak SMS dari Jaejin. Yuri melihat ke arah jam di dinding. Sudah pukul 10 pagi. Berarti, Yuri tidak masuk sekolah.

Yuri, kok kamu ga masuk sekolah?
Sakit ya?
Jaejin

Yuri... balas dong SMSnya.
aku dtg deh ke rumah ya.
SMS dong alamat rumahmu.

Yuri...

Yuri...

...

...

...

TING TONG
Bunyi bel rumah mengagetkan Yuri yang tadi kembali tidur. Yuri langsung bangun, mencuci mukanya yang sembap karena menangis, dan langsung menuju pintu rumah untuk membukakan.
“Jaejin-oppa?” Yuri terkejut melihat Jaejin yang sudah basah kuyup. Di luar memang hujan deras. Yuri langsung menyuruh Jaejin masuk, dan segera mengambilkan handuk. “Jaejin-oppa kok tahu alamat rumah? Terus... berarti oppa bolos sekolah dong?”
Jaejin mengelap rambutnya yang sedikit dicat keemasan, “hmm? Aku tanya sama hyung-nya Hyunjae. Waktu itu, kalau nggak salah, kamu pernah mesan ke restoran China-nya, ‘kan?”
“Hmm...” Yuri menggumam. Tetapi, pertanyaan keduanya belum dijawab. Jaejin kemudian membuka kemejanya. Yuri langsung menutup matanya, dan berbalik membela-kangi Jaejin.
“Yuri, bisa tolong buatkan teh?” tanya Jaejin. Yuri mengangguk, masih membela-kangi Jaejin, dan buru-buru menuju dapur untuk membuatkan teh. Deg deg deg deg. Jantung Yuri berdebar keras karena tadi Yuri sempat melihat badan Jaejin yang memang bagus.
“Ini, oppa...”
Jaejin menengok ke sebelahnya, dan spontan tertawa hebat gara-gara melihat Yuri yang memakai penutup mata untuk tidur. “Hahahaha...!!!” Jaejin menepuk-nepuk lantai di sebelahnya, “hahaha... Yu... Yuri... ngapain kamu pakai itu, hah?! Jadi lucu banget!!”
Yuri gelagapan, “ma... maaf, oppa!!”
“Oh, gara-gara aku nggak pakai baju ya? Maaf,” Jaejin berusaha mengontrol tawanya, “tapi nggak apa-apa, kok. Jangan malu. Selambat-lambatnya pun, kamu bakal ngeliat aku begini terus kalau kita nanti hidup satu atap.”
Yuri tidak percaya apa yang baru saja Jaejin katakan, begitu pula Jaejin sendiri. Yuri mengambil bantal dari sofa, kemudian menimpukkannya ke punggung Jaejin. Jaejin membalas timpukan Yuri pelan, lalu mereka berdua sama-sama terjatuh dan tertawa senang.

---

(C)2009 by K.C

Kamis, 21 Oktober 2010

Yuri & Five Pearl - "Jaejin & Yuri"

“HAH?!” Yuri terbelalak mendengar cerita Jaejin. Jaejin tersenyum, sambil melihat ke arah gelas berisi jus jeruk yang ia pegang. Mereka berdua sedang duduk di kursi di jembatan yang dialiri oleh sungai buatan di bawah.

Yuri masih memandang ngeri ke arah pipi kiri Jaejin yang sedikit membiru. Ia sama sekali tidak menyangka, kalau ternyata Hyunjae itu bisa bermain kasar juga. Dan Yuri juga merasa bersalah, karena Jaejin harus dipukul dan Hyunjae harus memukul cuman karena dia.
“Sakit...

“Tidak,” potong Jaejin dengan tegas. “Cuman segini saja. Lebih parah dua tahun yang lalu.”

“Dua tahun yang lalu?”

Jaejin memukul dahinya pelan, “aduh... keceplosan deh. Harusnya ini cuman menjadi rahasia antara FIVE PEARL. Tapi aku percaya padamu Yuri... kalau aku menceritakan ini kepadamu, kamu janji ya, mau merahasiakannya?”

Yuri mengangguk. Ia sudah sangat penasaran.

“Jadi, dua tahun yang lalu... Kami berempat masih kelas 1 SMA, sedangkan Minhwan masih kelas 3 SMP. Suatu saat, Hyunjae main ke sekolah Minhwan, dan jatuh cinta dengan seorang gadis yang bernama Sarang,” Jaejin meneguk jusnya dan kembali bercerita, “tetapi Hyunjae tidak ada keberanian untuk berbicara dengannya. Akhirnya aku ikut turun tangan, tanpa diketahui oleh Hyunjae. Saat Sarang mulai mendekati Hyunjae, Hyunjae heran dan bertanya, bagaimana caranya Sarang mengenalnya. Sarang menjawab, bahwa akulah yang memaksanya agar mendekati Hyunjae.

Hyunjae marah. Kupikir, yang kulakukan sudah benar. Ternyata tidak. Hyunjae hanya ingin melihat Sarang saja, tidak mau terlalu dekat dengannya. Kami bertengkar hingga 1 bulan lamanya, sampai akhirnya Sarang harus pindah ke Amerika. Hyunjae menganggap bahwa Sarang telah mencampakkannya, dan berjanji tidak akan pernah menyukainya lagi.”
Yuri kaget. Ia tidak percaya, ternyata ada cerita semacam itu di balik kedekatan Hyunjae dan Jaejin selama ini. Padahal, kalau diperhatikan, mereka itu sudah seperti saudara saja.

“Kamu tahu adik Hyunjae? Namanya Sarang. Hyunjae sangat menyayangi adiknya itu. Tetapi, 9 tahun yang lalu, Sarang meninggal karena terseret kereta. Dan karena kematian adiknya, Hyunjae jadi menjaga jarak dengan perempuan. Dia takut terluka lagi,” Jaejin menarik napas panjang. Yuri tercekat. “Aku pikir, mungkin karena Sarang bernama sama dengan adiknya, Hyunjae jadi menyukainya.”

***

Yuri mengepel lantai toilet dengan banyak sekali menarik napas panjang. Hatinya masih sesak karena mendengar cerita Jaejin yang begitu memilukan. Ternyata Hyunjae juga kehilangan, sama seperti Yuri yang kehilangan Hyunsoo.

Dari speaker terdengar lagu yang masih sangat asing di telinga. Yuri pikir, itu lagu no-eul ddae kkaji dari FT Island, tetapi ternyata salah. Yuri tidak pernah mendengar lagu itu. Tetapi, liriknya sangat romantis, dengan banyak kata saranghaeyo di dalamnya.

Karena penasaran, sehabis membersihkan toilet staff untuk hari kedua, Yuri langsung berlari menuju ruang siaran sekolah. “Permisi,” sapanya. Seorang gadis, tampaknya senior Yuri, tersenyum menyapa.

“Ada apa?”

“Saya ingin tanya, lagu yang barusan diputar, apa judulnya?” tanya Yuri.

“Oh, masa kamu tidak tahu? Itu lagi FIVE PEARL, judulnya saranghaeyo kkaji,” jawab gadis itu. Yuri tersenyum berterima kasih, dan keluar dari ruang siaran sekolah dengan perasaan yang menggebu-gebu. FIVE PEARL? FIVE PEARL? Lagu FIVE PEARL? Yuri mencoba mengingat-ingat di mana ia pernah mendengar nama band itu. Dan Yuri baru sadar, kalau FIVE PEARL itu adalah band Hyunjae dan kawan-kawan. Entah kenapa Yuri bisa lupa.
BRUK

“Aww...” sungut Yuri pelan. Dia terjatuh karena ada seseorang yang menabraknya. Yuri mengangkat wajahnya, dengan raut wajah kesakitan. Gadis di depannya panik, dan langsung menawarkan bantuan. Yuri menanggapi bantuan gadis itu dengan senang.

“Maaf ya, maaf...” kata gadis itu.

“Tidak apa-apa,” jawab Yuri. Yuri memandangi gadis itu dari atas sampai bawah dengan kagum. Badannya mungil, rambutnya yang panjang berkilauan diterpa cahaya matahari, dan wajahnya yang manis walaupun tidak memakai riasan apapun. Benar-benar sempurna bagi ukuran seorang gadis.

“Kamu anak baru ya? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya,” tanya Yuri dijawab anggukan cepat gadis itu. Bahkan anggukannya saja sangat manis dan anggun.

“Namaku Sarang, kelas 2, dan murid baru di sini,” jawabnya. Mendadak, suaranya yang tadi kekanak-kanakkan, jadi terdengar sangat dewasa.

Sarang?! Jangan-jangan...

“Sarang!” panggil seseorang di belakang Yuri. Yuri berbalik, menemukan Hyunjae yang sedang berlari ke arah mereka. Sarang, gadis di depannya, menghampiri Hyunjae dengan wajah yang merona.

Sarang... yang diceritakan oleh Jaejin tadi? Yuri merasa sesak.

***

Junsoo, Doojin dan Minhwan memandangi Sarang dengan kesal. Hyunjae membawa Sarang ke studio FIVE PEARL, dan membuat ketiga sahabatnya kesal.

Buat apa dia membawa Sarang ke sini? batin mereka bertiga sama-sama.

Sedangkan Jaejin cuman duduk di pojok, melihat keluar melalui jendela. Hyunjae tidak menyapanya. Masih ada suasana dingin di antara mereka berdua.

“Hyunjae,” Doojin menarik Hyunjae ke kamarnya, “buat apa kamu bawa gadis itu kemari? Bukannya gadis itu yang dulu menyulut amarahmu? Lupa ya? Sampai Jaejin harus masuk RS dan koma selama 3 minggu!”

“Doojin, kamu yang paling mengerti aku ‘kan? Masa kamu tidak mengerti hal ini,” keluh Hyunjae. Doojin tersenyum sinis.

“Aku tidak mau melihat ada perpecahan lagi di antara kita. Camkan itu,” tegas Doojin. Hyunjae kemudian menyusul Doojin yang sudah keluar, ingin meminta maaf. “Aku tahu perasaanmu, Jae. Tetapi aku tidak mau melihat ada perpecahan lagi, tadi aku sudah bilang.”

Hyunjae juga jadi risih melihat pandangan sinis dari kedua teman lainnya. “Sarang, kita ke rumahku aja yuk,” ajak Hyunjae dijawab oleh Sarang dengan anggukan.

Keesokan paginya...

“Yuri!!”

Yuri terperanjat dari kursinya saat melihat Sarang yang masuk ke dalam kelasnya dan menghampirinya. “Yuri!!!” katanya lagi, dan segera duduk di depan Yuri.

“... Sarang-onnie?” tanya Yuri heran.

Sarang tersenyum. Dia lalu memperlihatkan 3 tiket masuk ke Everland. “Aku men-dapatkan ini dari Ayahku. Mau nggak, kita pergi sama-sama?” tanya Sarang.

“Sekalian aku dan Hyunjae kencan... kamu juga bawa pasanganmu ya, nih,” Sarang memberikan dua tiket kepada Yuri dan langsung berlalu dari pandangan Yuri. Yuri masih heran, hang di tempatnya. Pasanganku... siapa? tanya Yuri dalam hati.

***

Hari Sabtu pun tiba. Yuri melihat Sarang sedang memeluk lengan Hyunjae mesra, di depan pintu masuk Everland. Sementara itu, Yuri cuman bisa terdiam di tempatnya. Dan Jaejin, yang mau ikut saat diajak Yuri, juga sama. Berdiri di tempat.

“Yuri!!” Sarang berlari ke arah Yuri dan Jaejin. “Wah! Halo, Jaejin-oppa! Yuk, kita langsung masuk aja...!!”

Yuri dan Jaejin cuman berjalan perlahan-lahan, sementara Sarang dan Hyunjae sudah jauh di depan, dan langsung menaiki wahana yang pertama kali mereka lihat. Yuri kemudian duduk di bangku, memandang ke depan. Yuri biasanya sangat senang kalau diajak ke taman bermain, tetapi entah mengapa, hari ini dia sangat suntuk.

“Kenapa? Kok lemes?” tanya Jaejin mengejutkan Yuri. Jaejin sudah memegang dua buah es krim di tangannya, dan cowok itu kemudian menyodorkan es krim dengan topping coklat di atasnya.

“Thanks, oppa,” jawab Yuri, sambil mengambil es krim yang disodorkan oleh Jaejin. Melihat Jaejin memegang es krim dengan topping vanilla, Yuri pun berkata, “anu, oppa... boleh nggak aku yang vanilla? Hehehe...”

Jaejin tersenyum mengangguk, dan memberikan Yuri yang vanilla. Mereka pun tukaran es krim. “Enak nggak?” tanya Jaejin. Yuri mengangguk dan masih menjilat es krim di tangannya. Jaejin menyodorkan tangannya, “yuk.”

“Ke mana?” tanya Yuri.

Tanpa dijawab, Yuri langsung ditarik oleh Jaejin. Duh, perasaan aku begini terus. Pertanyaanku kok nggak dijawab terus, ya? pikir Yuri keheranan dalam hati. Mereka berdua kemudian berhenti di depan stasiun bus Safari.

“Wah... Safari, ya?” Yuri kagum. Jaejin kemudian membeli tiket, dan mereka langsung masuk ke dalam bus.

Yuri tertawa ketika melihat beruang-beruang coklat yang berdiri, memberi salam kepada mereka, dan memperlihatkan pose-pose lucu. Apalagi saat Yuri melihat liger, yaitu hasil perkawinan silang dari singa dan harimau. Yuri sangat kagum. Mereka lalu turun, dan masuk ke dalam toko suvenir.

“Nih,” Jaejin memakaikan Yuri bando dengan telinga kucing sebagai penghiasnya.

“Nih,” balas Yuri sambil memakaikan Jaejin bando dengan telinga harimau putih. Mereka berdua tertawa. Setelah dari toko suvenir, Jaejin mengajak Yuri ke dekat taman buatan di tengah-tengah.

Di saat itu juga, Hyunjae dan Sarang baru mau naik ke cable car. Mereka sedang mengantri di stasiunnya, antriannya sampai berekor keluar, karena memang banyak sekali yang ingin menaiki cable car. Sarang sibuk dengan HP di tangannya, sementara Hyunjae melihat ke arah Yuri dan Jaejin.

“Kamu seneng ‘kan, sekarang?” tanya Jaejin.

Yuri tersenyum tersipu-sipu, kemudian menundukkan wajahnya.

“Yuri...”

Yuri mengangkat wajahnya, dan mendapati Jaejin dengan wajah yang khawatir. “Kamu nggak apa-apa, melihat Hyunjae dan Sarang?”

“Tentu tidak apa-apa, oppa. Aku cuman menganggap Hyunjae-oppa sebagai abang, dan perasaanku tidak lebih dari itu. Justru aku senang melihat mereka berdua,” jawab Yuri. Tetapi, entah mengapa saat menjawab dengan kalimat itu, hati Yuri terasa sakit dan dadanya terasa sesak.

“Baguslah kalau begitu,” kata Jaejin membuat Yuri kaget. “Karena... rasanya aku juga jadi mencintaimu.”

Yuri cuman bisa diam ketika Jaejin mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Yuri. Dari jauh, Hyunjae melihat mereka dengan perasaan sesak dan marah. Sebulir air mata pun jatuh ke pipinya. Hyunjae tidak mengerti. Padahal, cewek yang sangat dicintainya sudah berada di sebelahnya sekarang. Hyunjae sama sekali tidak mengerti.